Minggu, 06 Maret 2016

MEMINTA WAKTU

MEMINTA WAKTU
Di dunia ini ada laki-laki yang ingin menyandingmu, tapi dia merasa tak mampu. Ada.
Diantara perjalanan-pertemuanmu selama ini dengan seseorang, ada laki-laki yang sedari dulu memerhatikanmu sembunyi-sembunyi. Ada.
Diantara banyak pertemuan, rasanya berpapasan sekali pasti terjadi. Tapi siapa sangka, di dunia ini banyak cinta berada di tempat yang sama, pada jarak yang tak pernah jauh, tetapi belum tentu bertemu.
Ia adalah laki-laki yang tak jauh darimu, yang kamu kenal tapi tak pernah kamu kira bagaimana hatinya. Dia yang setiap saat menghitung-hitung waktu, menghitung mundur batas waktu yang dibuat dalam hidupnya sendiri.
Hendak meminta waktu kepadamu, itu sama halnya memintamu menunggu. Anti bagi laki-laki seperti itu untuk memintamu menunggu. Kapan pun kamu siap, laki-laki haruslah siap.
Pada hari terakhir batas waktu yang telah ia buat, ia duduk menyendiri pada sudut ruangan masjid. Diam sampai pada wakttu shalat berikutnya. Aku yang beberapa saat kembali dan menemuinya dalam keadaan yang sama, bertanya sebabnya.
“manusia memiliki batas waktu, hidup pun memiliki batas waktu. Sebaik-baiknya mengisi waktu adalah dengan hal yang terbaik.”
Aku memerhatikan kesedihannya.
“masih ada waktu, terlambat adalah kata-kata orang putus asa,” aku menyemangatinya.

Kemudian pergi membiarkannya sendiri.

Rabu, 03 Februari 2016

Untukmu yang tidak mengajakku demi kemewahan, tapi mengajakku berjuang untuk masa depan

Kamu tidak datang dengan segepok janji manis yang membuat hatiku sekenyal mie yang baru saja selesai ditiris. Sampai hari ini kita lebih sering berkomunikasi sambil membicarakan banyak hal. Mulai dari bagaimana harimu, hal besar apa yang sedang terjadi di hidupku, sampai sesekali kelakar soal rencana masa depan yang bagi kita terasa besar, menakutkan, tapi juga membuat penasaran.
Sejak awal kamu tidak pernah menawarkan banyak hal. Tidak ada janji seperti “Nanti aku belikan X atau Y buat kamu, deh,” atau sikap mengumbar. Tak ada kalimat seperti “Di kantor, aku termasuk staff yang sering dipuji. Kalau kamu mau sama aku, kamu nggak akan menyesal deh, pasti.”
Tapi justru kesederhanaan itu yang menarik darimu. Kamu tak memperlakukanku seperti seseorang yang manja. Alih-alih, kamu mengajakku untuk berjuang bersama.
Kamu dan aku sama-sama berasal dari keluarga yang berbeda sistem cara pendidikannya. Mungkin, kamu sejak kecil, dididik supaya punya bekal untuk “memapankan” nasib sendiri. Tak melulu mengandalkan orangtua ketika umur kita sudah dewasa. Karena itulah, kamu tumbuh jadi seorang individu yang tidak manja. Akan tetapi berbeda dengan aku, sejak kecil apa yang aku inginkan selalu dituruti, akibatnya ketika aku mulai tumbuh dewasa, aku tumbuh menjadi anak yang manja.
Di umur yang sekarang, kita belum punya banyak materi. Bisa dibilang makan pun hemat biaya, kost pun di tempat yang sangat layak dibilang sederhana, yah karena memang saat ini kita hidup berada dilingkungan pesantren, uang lebih baik dikumpulkan untuk mematri masa depan nanti. Biarpun muda, kita tidak punya cukup uang untuk berfoya-foya.
Di kamus kita, makan malam romantis adalah makan bersama teman-teman seperjuangan di pinggir jalan, di lesehan menikmati malam. Apel rutin adalah kamu dan aku mengobrol di sebuah pesan singkat yang disebut messenger. sampai sudah saatnya kamu dan aku pun harus tidur beristirahat agar hari esok bisa kembali beraktifitas seperti biasanya. Berkendara di sepeda motor setiap malam untuk memandang bintang? Ah, itu cuma ada di film atau televisi. Kita sudah cukup senang dengan kesederhanaan yang saat ini.
Ke mana-mana naik motor, karena tak ada alternatif lain yang kamu dan aku punya punya. Ah, saat usia kita nanti sudah lebih matang, ini akan jadi semanis-manisnya kenangan. Saat sudah ada anak-anak kecil yang berlarian di rumah (rumah!) kita, memegang kaki-kaki kita dan tertawa, kamu dan aku tahu kita sudah sampai pada tahap bahagia.
Tapi sekarang, kita masih harus sama-sama berjuang.
Kamu pernah memarahiku karena boros membeli hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Aku pun sering mengingatkan agar kita sama-sama tak meremehkan pekerjaan — bagaimanapun, itu adalah tiket menuju kemapanan.
Tak pernah sebelumnya aku sehati-hati ini dalam pengeluaran. Mungkin karena aku akhirnya menemukan alasan untuk serius tentang masa depan. Bahkan, ide untuk tak bertukar hadiah disaat ulang tahun kita hanya demi modal untuk tabungan masa depan jadi masuk akal. Untuk hal-hal seperti pulsa pun, kita tak alpa mengencangkan ikat pinggang.
“Buat internetan, kita pakai AXIS BRONET aja ya. Rp14.900 aja udah dapet kuota 1 GB, cukup buat komunikasi, ngerjain tugas, sampai hobimu karaokean di YouTube. Lumayan lho, aku bulan lalu udah nyoba. Masa berlakunya juga panjang, sampai dua bulan — jadi nggak harus sering-sering isi pulsa ;p”
Terima kasih untuk tidak meremehkan kemampuanku untuk berjuang di sisimu. Terima kasih untuk tidak mencoba membuai dengan janji kamu akan memperjuangkan semuanya untukku. Terima kasih, kamu justru menghargai usahaku.
Akan ada saatnya nanti, kita tak perlu pulang ke rumah masing-masing lagi. Akan ada saatnya, kita mampu membiayai hidup makhluk kecil yang memanggil kita dengan sebutan menghangatkan hati.
Tentu saja ini semua masih berupa masa depan. Tentu saja, ini tak bisa kita dapatkan di masa sekarang. Tapi ada cara supaya kebaikan ini lebih lekas datang: tak henti-hentinya memperjuangkan masa depan.
Jangan lepaskan. Kita akan terus saling menyemangati, bukan?