MEMINTA WAKTU
Di dunia ini ada
laki-laki yang ingin menyandingmu, tapi dia merasa tak mampu. Ada.
Diantara
perjalanan-pertemuanmu selama ini dengan seseorang, ada laki-laki yang sedari
dulu memerhatikanmu sembunyi-sembunyi. Ada.
Diantara banyak pertemuan,
rasanya berpapasan sekali pasti terjadi. Tapi siapa sangka, di dunia ini banyak
cinta berada di tempat yang sama, pada jarak yang tak pernah jauh, tetapi belum
tentu bertemu.
Ia adalah laki-laki
yang tak jauh darimu, yang kamu kenal tapi tak pernah kamu kira bagaimana
hatinya. Dia yang setiap saat menghitung-hitung waktu, menghitung mundur batas
waktu yang dibuat dalam hidupnya sendiri.
Hendak meminta waktu
kepadamu, itu sama halnya memintamu menunggu. Anti bagi laki-laki seperti itu
untuk memintamu menunggu. Kapan pun kamu siap, laki-laki haruslah siap.
Pada hari terakhir
batas waktu yang telah ia buat, ia duduk menyendiri pada sudut ruangan masjid.
Diam sampai pada wakttu shalat berikutnya. Aku yang beberapa saat kembali dan
menemuinya dalam keadaan yang sama, bertanya sebabnya.
“manusia memiliki
batas waktu, hidup pun memiliki batas waktu. Sebaik-baiknya mengisi waktu
adalah dengan hal yang terbaik.”
Aku memerhatikan
kesedihannya.
“masih ada waktu,
terlambat adalah kata-kata orang putus asa,” aku menyemangatinya.
Kemudian pergi
membiarkannya sendiri.